Kerusakan Ekosistem, Pengawasan Tambang Galian C Mukomuko Harus Diperketat

Selasa 01 Apr 2025 - 18:05 WIB
Reporter : Firmansyah
Editor : Riky Dwiputra

“Tidak pernah mereka berkoordinasi saat akan melakukan kunjungan ke Mukomuko ini, maka dari itu kami tidak tau pengawasan dilakukan atau tidak karena memang bukan kewenangan kami, meskipun ini daerah kami,”sampainya.

BACA JUGA:Gubernur Pastikan Infrastruktur Bengkulu Utara Rampung dalam 3 Tahun

BACA JUGA:Peduli Kesejahteraan Warga Panti, Gubernur Helmi Bakal Perbaiki Fasilitas Tresna Werda

Meski demikian Budi juga mengakui sedikit banyak aktivitas pengoperasian galian C di Mukomuko, sudah ada yang berdampak pada perubahan alur sungai. Perubahan tutupan spadan sungai dan lainnya.

“Itu bukan jadi wewenang kami, maka dari itu kami tidak tau aturannya. Yang pastinya aktivitas disungai aktif mereka lakukan dan terjadi perubahan bentuk sungai maupun tutupan diwilayah itu,”tutupnya. 

Sementara itu, Kabid Pendapatan I  Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Mukomuko, Novtri Syahyadi S.STP mengatakan, untuk pengawasan dan perizinan tambang galian C seluruhnya ada di Provinsi Bengkulu.

Di Mukomuko sendiri terdapat 14 tambang galian C yang beroperasi. Dengan relalisasi pendapatan asli daerah (PAD) yang dihasilkan tahun 2024 lalu sebesar Rp 2,2 miliar melebihi target yang ditetapkan sebesar Rp 1,9 miliar. Seluruh pelaku usaha menyelesaikan kewajibannya.

BACA JUGA:LKDP 2024 Resmi Diserahkan, Pemprov Bengkulu Targetkan Raih Kembali Opini WTP

BACA JUGA:FKW KAHMI Bengkulu Resmi Dilantik, Helmi: Jaga Idealisme dan Kawal Kebijakan

“Kalau kita cuma menarik PAD untuk material yang mereka keluarkan dari galian C, tapi untuk pengawasan lingkungan, penerbitan izin dan perpanjangan izin semua itu di Pemerintah Provinsi,”kata Novtri.

Novtri juga menyampaikan, untuk target PAD dari pajak mineral bukan logam dan batuan tahun 2025 berkurang, karena adanya efisiensi anggaran. Yang menyebabkan kegiatan fisik minim sehingga berpengaruh dengan penggunaan material dari 14 tambang galian C tersebut. Tahun ini tagetnya hanya sebesar Rp 1,5 miliar.

“Otomatis tahun ini penggunaan material berkurang karena tidak adanya kegiatan fisik, maka dari itu berpengaruh pada target capaian,” tutup Novtri. 

 

 

 

 

Kategori :