Dengan cara menegangkan otot leher dan mengencangkan bagian belakang sayap, maka pelikan Peru dapat melindungi diri dari dampak yang berpotensi fatal.
Dimana, kantung udara di bawah kulit leher pelikan Peru berfungsi sebagai pelindung tambahan, mirip dengan airbag pada mobil.
Hal inilah yang membantu meredam dampak saat pelikan Peru menyelam.
Dimana, adaptasi ini tidak hanya meningkatkan peluang mereka untuk berburu dengan sukses, tetapi juga melindungi mereka dari cedera yang bisa mengancam keselamatan hidupnya.
3. Koloni pelikan Peru sangat toleran
BACA JUGA:Wow! Berikut 5 Burung Kakatua Eksotis Berwarna Gelap, Kamu Pernah Ketemu?
Dikutip dari laman Oiseaux Birds, pelikan Peru hidup dalam koloni besar, yang dapat terdiri dari belasan hingga puluhan ekor.
Pelikan Peru sering terlihat bertengger di tepian berbatu untuk beristirahat.
Adapun salah satu ciri khas dari pelikan Peru adalah ketidakmampuan mereka untuk menghasilkan suara vokal.
Hal ini karena pelikan Peru tidak memiliki otot syringeal yang diperlukan untuk berkomunikasi dengan suara seperti burung lainnya.
Sebagai gantinya, pelikan Peru berkomunikasi melalui gestur tubuh dan berbagai suara non vokal, seperti mendesis, mengerang, menjerit dan menepuk paruh.
BACA JUGA:Punya Paruh Kecil Kuat! Berikut 5 Fakta Unik Burung Parrotlet
Uniknya lagi, pelikan Peru menunjukkan toleransi yang tinggi terhadap kehadiran spesies burung lain di sekitarnya.
Pelikan Peru sering terlihat berkoloni bersama pelikan cokelat dengan nama ilmiahnya Pelecanus occidentalis, cikalang elok dengan nama ilmiahnya Fregata magnificens dan angsa batu kaki biru dengan nama ilmiahnya Sula nebouxii.
Di Pulau Santa Clara, Ekuador, terdapat 24 sarang dari keempat spesies burung ini yang saling berdekatan.
Adapun jarak antar koloni yang cukup dekat, hanya sekitar 300 meter antara pelikan Peru dan pelikan cokelat, serta kurang dari 500 meter dengan spesies lainnya.